Sabtu, 20 Februari 2016

Posted by Unknown in | 10.56 No comments


Diskusi
Aksi
Kaderisasi
Bela Negara
Hm….apa lagi (Tapi kok)
Sepi
Pasif
Hedonis
Acuh
Gak ada duitnya
Kabuuuurrr
Kelar urusan..mati akal
Anak ribut mainan cina
Mama minta pulsa
Ada minta saham
Minta transfer
Bahkan minta maaf

Lalu…
Sepetak jengkal
Yang liar tak berijin
Kumuh tak sehat
Tuduh surat palsu
Tak layak huni pungkasmu
RATAKAN…
Manusia manusia tereliminasi hak nya


Gugat menguggat tak ada sepah
Hilang nyawa bagi melawan
Anak mati diujung gang terinjak tiang baliho dan matanya menyala
Pengawal menatap sinis dan nyinyir sadis

Menyatu pada nafas massa
Ingatan kami tajam
Tak lumpuh oleh timah
Atau bahkan gertak sambal

Dilorong-lorong kota
Menanti iba penguasa
Namun yang tersisa hanya hina, angkara bersampul
Drama juga pesona
Dibelai angan yang penuh dusta
Pada bangsa yang setengah mabuk
Dan Sarinah Suatu Pagi……….
Mak…pergi dulu kataku
Tugas besar menanti tanggung jawabku
Tanpa firasat ku titip satu doa untuk negeri ini
Dibalik jurang menara pencakar langit
Aku berteman langkah dan waktu
Hingga ke tugu tugasku ditempatkan
Tak lama… bunyi laras susul hantaman tikai yang tak mereda
Merobek robek perasaan bangsa yang tengah sakit sosial,ekonomi hukum.
Manusia tak bersalah jatuh tergilas darah
Darah yang sia sia dari sebuah tragedi
Melindungi bangsa segenap tumpah darah
tertib dunia dasar damai abadi
Belum jadi kehendak besar
Ya…karna rumah kami sedang kecolongan



Jakarta Malam 2015



Kamis, 20 November 2014

Posted by Unknown in | 04.33 No comments
oleh: Tika D. Pangastuti


Dalam memperingati hari sumpah pemuda yang jatuh pada 28 oktober setiap tahunnya, Komunitas Malam Puisi Tangerang (MP Tangerang) mengadakan ‘riungan keakraban’ yang berlokasi di Warung Caping, Benda Baru Pamulang. Acara yang diisi dengan membaca puisi dan pembacaan sumpah pemuda ini diikuti oleh beberapa komunitas peggiat sastra seperti: Komunitas Sastra Indonesia (KSI) Tangsel, Sarang Matahari, Oretan Liar, Malam Puisi Jakarta (MP Jakarta) dan beberapa komunitas lainnya.
Tak ketinggalan pula turut diramaikan oleh Seniman asal Tanah Rencong, Jambu Kupi Apa Kaoy yang mengisi kesenian tradisional, serta penyair dan aktivis Dewi Nova Wahyuni, penulis cerita pendek “Perempuan kopi”. Acara yang berdurasi selama dua jam empat puluh lima menit ini turut diramaikan dengan musikalisasi puisi, oleh Sarang Matahari.
“acaranya menarik, minuman disini juga murah” ungkap salah satu pengisi acara pada malam tersebut. Selain itu menurut Andi Lesmana, panitia pelaksana ‘riungan keakraban’ mengatakan jika momentum ini merupakan momen yang tidak sekedar momen untuk peringatan saja, namun juga bagaimana peran komunitas dalam menghidupkan kembali makna sumpah pemuda.
Besar Harapan bagi penggiat sastra dapat mempererat komunikasi disamping memaksimalkan potensi tuk berkarya dan membangun semangat nasionalisme. 



Jumat, 26 September 2014

Posted by Unknown in | 10.12 No comments


Resensi

Oleh: Tika D. Pangastuti
Nama buku                : Kumpulan Puisi ‘Negeri Puisi’ Hadi Sastra
Penerbit                    : Yayasan Uyut Al-Awali, Pondok Petir, Bojongsari, Depok
Cetakan I                  : Juli 2014
Lembar Halaman        : 87 hlm, 14x21 cm
ISBN                         : 978-602-70662-1-2

Negeri Puisi mengajak kita semua mengenali dan memaknai bahwa negeri kita sungguh memiliki banyak puisi. Dengan bahasa sederhana, Hadi mencoba menggambarkan yang sesungguhnya mengenai kehidupan yang dituangkan dalam beberapa puisinya seperti kebahagiaannya menyambut kelahiran anak, pengalaman religius, semangat patriotik, kisah pendidik honorer yang masih terjadi di negara kita serta kegelisahannya terhadap waktu yang terus berjalan. Dalam pikiran pembaca mungkin tidak mengerti bagaimana cara menuangkannya terutama dalam bahasa sehari-hari. Seperti pada puisi ‘secuil pesan untuk Putra Pertama’, sepotong nasihat, sepenggal motivasi dan setitik pesan untuk putra kedua.

Bukti kecintaannya terhadap Negeri, Hadi menyertakan pada pusinya seperti Kubagi Nyawa Untuk Negeriku, Puisi Untuk Negeri, Puisi dan Negeri, Doa Untuk Negeri dan Indahnya Negeriku yang kesemuanya itu berisi harapan-harapan serta curahan hatinya untuk Negeri tercinta. Tak ketinggalan dalam puisi ‘Romantika Bersama Ustad’ berupa pengalaman pribadi Hadi yang mengajak kita untuk menemukan makna spiritual. 



Minggu, 24 Agustus 2014

Posted by Unknown in | 18.00 No comments

Oleh: Tika D. Pangastuti

Dalam suatu kesempatan saya menemui salah seorang penikmat lukis dibilangan Tangerang Selatan. Pria yang biasa dipanggil Pakde ini bernama Yakub S. Budi yang memilih berkesenian dan berkarya sebagai kegemaran hidupnya.
Bermula mendirikan sebuah Komunitas Orang Pinggiran dan Kelompok  Seniman Jalanan Boyolali (KSBJ) beberapa tahun silam, mengantarkannya pada sebuah jalan untuk memulai berkesenian. Salah satunya dapat diwujudkan melalui kepeduliannya terhadap musisi jalanan.
Melalui Hal ini, Pakde kerap berkumpul dengan rekan-rekannya untuk menggagas ide-ide segar yang kemudian menjadi wadah apresiasi untuk kalangan muda saat itu. Pria kelahiran Malang ini mengaku pernah berjualan roti keliling sambil menjadi pengamen puisi didalam bus Boyolali-Yogyakarta, saat ia masih tinggal di Boyolali.
Jauh sebelum itu, melukis sudah dimulainya sejak ia diminta melukiskan suatu karya oleh rekannya kala itu. Yang sejatinya ia tidak menyangka akan menjadi sebuah lukisan yang indah. Melukis baru digelutinya pada 2001 lalu dengan tidak melupakan menanggalkan komunitasnya. Ia tak menyesal dengan prosesnya saat ini yang baginya memiliki sejarah dalam hidupnya.
“Bagi saya, yang berangkat dari kegelisahan itulah harus dituangkan menjadi sesuatu yang bernilai. Kenali potensi sejak dini yang lebih baik.” Tutur Pakde dibalik kepulan asap rokoknya.
Sebagai kegemaran dalam menulis, Pakde sedang mempersiapkan novel perjalanan hidup yang ditulisnya sendiri, yang berisikan perjalanan-perjalanan hidup dan karirmya sebagi seorang penikmat seni. Saat ini ia bergabung sebagai mentor seni lukis di Rumah Pintar, BSD Tangsel sebagai bentuk apresiasi seninya. Saat ini ia tinggal di Babakan Pocis Jl. Swadaya Tangerang Selatan. 


Beberapa karya-karyanya


Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter