oleh: Tika D. Pangastuti
Momen
yang ditunggu-tunggu bagi seluruh warga negara Indonesia dalam memilih pemimpin
yang bersih, merakyat dan sederhana. Tidak mengurai bagaimana euforia itu
berlangsung, hanya terbesit keinginan untuk menulis kaitan antara seni dan
politik menjelang pemilihan pilpres 2014 ini. Sebagai penikmat seni kita
acapkali sering ditanyai oleh beragam pertanyaan seperti: apa kaitan antara
seni dan politik, bagaimana hubungan antara seni dan politik serta dimana letak
kekuatan seni dalam politik.
Dalam
pengertian yang agak ketat, seni sering dimaknai sebagai tindakan manusia (baik
sebagai proses maupun hasilnya) yang dilakukan dalam rangka atau didasarkan
pada penyesuaian “rasa”. Lebih sempit lagi dalam rangka rekayasa aestetika,
dalam ukuran indah dan tidak-indah. Sedangkan politik adalah segala tindakan
manusia (baik proses maupun hasilnya) dalam rangka menyesuaikan “ketaatan” pada
negara. Dalam axiology, parameter seni adalah aestetika/keindahan (indah maupun
tidak indah), sedangkan parameter politik adalah ketaatan(maupun
ke-tidaktaat-an). Dua jenis tindakan tersebut, walaupun parameter
(keberhasilan)nya berbeda, tetapi memiliki persyaratan pilihan yang sama, yaitu
bebas. Setiap manusia boleh secara bebas memilih gaya berkeseniannya, boleh
menyukai atau tidak menyukai karya seni tertentu. Begitu pula berpolitik,
walaupun urusannya adalah perkara taat atau tidak taat, setiap manusia boleh
memilih sikapnya terhadap negara, terhadap kelompok orang, terhadap masyarakat,
apakah harus taat atau tidak taat terhadapnya.
Seni Sebagai Alat Atau Media Politik
Dalam
bentuknya yang paling popular, biasanya lebih sering seni muncul sebagai alat
atau media politik. Apalagi di musim kampanye sekarang ini. Para politisi beramai-ramai
ujug-ujug muncul sebagai artis, sebagai pelawak, sebagai pendonor
kegiatan kesenian. Poster, jingle dan lain-lain perhelatan kesenian menjadi
kendaraan politik bagi sejumlah kepentingan. Dalam pengertian semacam ini seni
menjadi sub-ordinasi politik. Ini
menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus tertentu sesekali seni bisa menjadi
sub-ordinat dari politik. Pada kasus lain, nanti akan kita dapati bahwa seni
justru lebih unggul daripada politik.
Politik Sebagai Objek Seni
Suatu ketika, bahkan
seni mempunyai posisi sebagai subjek peristiwa dimana politik hanya berperan
sebagai objek seni. Pada karya-karya karikatur, teater, ataupun pergelaran
wayang kulit misalnya, seringkali persoalan politik dan politisinya menjadi
bulan-bulanan seniman, mereka muncul sebagai komponen karya tak lebih sebagai
alat penyeimbang rasa saja.
Politisi Sekaligus Seniman
Jika
uraian pendapat diatas mengandung kebenaran maka menjadi wajar saja bahwa ada
sejumlah orang yang mempunyai reputasi yang bagus di kedua profesi tersebut.
Banyak politisi yang sekaligus merupakan seniman yang handal di bidangnya.
Ambil contoh seperti Bung Karno misalnya, dia adalah seorang arsitek sekaligus
orator dan pemimpin politik kelas dunia. Koleksi lukisan dan patungnya
dibukukan dan menjadi literatur penting dalam seni rupa Indonesia. Gus Dur,
presiden eksentrik itu adalah juga seorang sastrawan yang pernah menjadi ketua
Festival Film Indonesia.
Di
Eropa ada Hitler yang menghebohkan Perang Dunia itu juga ternyata adalah
seorang pelukis. Vaclav Havel yang pernah menjadi presiden Cheko itu juga
merupakan sastrawan kenamaan.


0 komentar:
Posting Komentar