Oleh : Tika Dian Pangastuti
Judul Buku : TAN Sebuah Novel
Halaman Buku : 427 hlm
Penulis : Hendri Teja
Penerbit : JAVANICA
ISBN : 978-602-6799-06-7
Tahun Terbit :
Februari 2016
Lahir dengan nama
Ibrahim pada masa paceklik. Hidup di Nagari Lumuik Suliki Minangkabau dengan
ajaran agama Islam serta adat yang kuat, gelar Datuk Pamuncak telah disandangnya pada usia yang masih muda. Rela
tercampak dari tanah adat, dengan gairah pengetahuan yang besar mendorongnya
untuk berlayar Ke Nederland. Semangat perjuangan yang mengedepankan kesadaran
terhadap kaum yang terjajah melalui tulisan, pendidikan masyarakat dan
mengorganisir para kaum buruh, membuat Tan terkenal dengan nama pena Tan Malaka.
Dari kota-kota di
Nederland, ia terus belajar menyesuaikan lingkungan dan alam serta mengobarkan
semangat perlawanan terhadap kaum penjajah. Dalam perjalanannya, ia selalu
berhadapan dengan kapitalis perkebunan, sindikat pengusaha gula dan Gubernur
Jenderal Hindia. Dalam kejaran polisi maupun keluar masuk penjara. Semua tak
mengurangi rasa ketakutannya untuk berjuang atas nama kesadaran.
Novel ini sedikit memberi
pencerahan untuk generasi saat ini yang memerlukan tokoh inspirasi dalam membangun
arti sebuah perjuangan, berkelompok dan berpihak kepada masyarakat serta kaum
yang tak berpunya. Penggunaan alur maju, secara runtut dikisahkan menjadi lima
sub-judul, yang setiap sub judulnya pembaca diarahkan untuk memecahkan
persoalan demi persoalan serta menemukan jalan keluar yang membelit kaum
terjajah dimasa itu. Setiap sub-judul memenuhi unsur-unsur pembangun novel
seperti : pengenalan tokoh (Orientasi) pada sub-judul pertama sangat jelas
dipaparkan tokoh-tokoh pendukung dalam cerita, Pengenalan masalah (Rising
Orientasi) berawal dari kegelisahan Tan merasakan penderitaan kaum terjajah
dengan dijadikannya kuli kasar dinegeri sendiri dan lalu memutuskan untuk pergi
ke Nederland untuk memperkuat ilmu pengetahuan, konflik (Conflict) ketika Tan
bersinggungan dengan Pemerintah Hindia Belanda dalam hal negosiasi,
perundingan, melaksanakan kongres dengan kawan-kawan seperjuangan, selisih
paham dengan rekan-rekan perjuangan maupun oposisi hingga sedikit bumbu romansa
yang memperlengkap jalannya alur cerita, serta akhir penyelesaian
(Re-Orientasi), dipengujung cerita disajikan penulis bahwa Tan tertangkap
kemudian akan diasingkan ke Digul, setelah perjuangan panjang mendidik,
menggerakan massa dan bertaruh pada penyakit menahunnya yang enggan
berkompromi.
Penyisipan bahasa
Minangkabau, Belanda, serta gaya bahasa penulisan yang khas perjuangan, membuat
novel ini semakin hidup. Pembaca seolah diajak hidup pada masa itu dan
mengikuti proses pengorganisiran dan mengalami apa yang dirasakan dalam tokoh-tokoh
cerita tersebut. Namun ada yang membuat janggal pada novel ini, saat memaparkan kisah romansa pejuang yang
melibatkan dua perempuan tangguh, yang turut menemani perjuangan Tan. Ini sedikit
terkesan membuat pembaca tidak mengadopsi penuh nilai-nilai berjuang yang
sesungguhnya, bahkan berbeda sekali dengan tulisan-tulisan perjuangan Tan
Malaka pada buku legendaris Madilog, Aksi Massa serta Rencana Ekonomi Berjuang.
Pembaca menemukan hal ini pada sub-judul 4 halaman 308 dan 309, agaknya begitu mengurai
romansa. Sehingga cenderung tidak menggiring pembaca untuk ayo…berbuat sesuatu
sekarang yang kita bisa untuk bangsa saat ini. Pesan edukasi dalam novel ini
tersaji hanya secara garis besar, berjuang bersama dalam tim komando yang
sejalan untuk cita-cita yang besar.
Pada sub-judul ke 5,
Lelaki yang mengatur perkara, pada halaman 412-414 cenderung monoton,
menceritakan selisih paham antar kawan yang menimbulkan konflik dan pada
akhirnya hanya kembali mengurai kisah romansa dan kemudian kembali ke situasi
masalah yang sebenarnya. Diakhir cerita pembaca tidak menemukan sense atau kejadian
terduga, dari sekian rangkaian peristiwa yang telah diurai. Pembaca merasakan
sub judul terakhir masih menggantung, maka perlu ada edisi II novel Tan.



Thank you in advance min.
BalasHapusFor friends who recommend the best game specifications, plea