Minggu, 29 Juni 2014

Posted by Unknown in | 23.21 No comments
Oleh: Tika D. Pangastuti


Taman Baca Anak Matahari (TBAM) Setu-Tangsel ini baru ada pada januari 2014. Taman baca yang diperuntukan untuk anak dan remaja ini mulai diminati keberadaannya yang menyatu dengan alam. Bukan tanpa alasan, kampung Setu, yang asri dikelilingi pohon-pohon rindang ditengah perkampungan yang juga dibatasi oleh sebuah anak sungai, yang mendorong taman baca ini diminati keberadaannya.
Awalnya taman baca ini hanya memiliki koleksi beberapa buku saja. Pembuatan saung untuk meletakkan buku-buku dilakukan secara gotong royong dengan alat-alat seadanya. Kemudian adanya kegiatan secara rutin mendorong masyarakat semakin mengetahui keberadaan taman baca anak matahari ini. Lalu beberapa ada yang memberikan sumbangan buku-buku maupun alat tulis secara sukarela.
Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan TBAM, antara lain: Belajar sablon, belajar angklung, berkemah, seminar motivasi, mengenalkan permainan tradisional, dan masih banyak lagi. Tidak hanya berkumpul di sinipun turut menanamkan nilai-nilai gotong royong dalam kesederhanaan. Seperti membersihkan lingkungan yang disekitar taman baca, musyawarah dalam menentukan kegiatan apa yang harus dilakukan, dan membuat saung secara gotong-royong.
Tentu kita belajar dari potret taman baca anak matahari (TBAM) Setu ini dengan kebersamaan dalam kesederhanaan, berusaha belajar dengan kesadaran berkelompok dan tanggung jawab.
Bagi yang ingin berkontribusi menyumbangkan buku-buku, alat tulis, berbagi ide-ide kratif dan yang bersedia membagi pikiran-pikirannya, langsung datang ke Jl. Puspitek Raya Kp. Setu Gg Masjid Rt 17/04 No. 35 kel. Setu Kec. Setu Tangsel-Banten 15314. Atau hubungi Shandy (083-898-729-909) pin 76396E1A. dapat diakses twitter: @tba_matahari. Facebook: Taman Baca Anak Matahari.





Selasa, 17 Juni 2014

Posted by Unknown in | 06.33 No comments
Oleh: Tika D. Pangastuti

     Menggembirakan tentunya bagi penikmat sastra bila berbincang-bincang langsung dengan para seniman dan sastrawan. Abah Yoyok begitulah kira-kira sapaannya, yang mementoring kita semua untuk kembali mengapresiasi puisi, yang kali ini penulisnya adalah Mas Handoko F. Zainsam. Beliau baru saja menerbitkan antologi puisinya yang berjudul Nang, Ning, Nung, Gong.

      Riungan sastra ini sekaligus sebagai agenda terakhir untuk menyambut datangnya Bulan suci Ramadhan. Diawali makan bersama, diskusi, serta apresiasi puisi, acara riungan ini berjalan dengan lancar. Kendati diiringi gerimis, tak menyurutkan niat teman-teman penggiat sastra untuk datang dan mengisi acara hingga usai.

        Ada pepatah Jawa yang saya ingat, Mangan ra mangan anggere ngumpul (makan tidak makan, asalkan berkumpul). Saya memaknai nya seperti ini kira-kira, meskipun diantara teman-teman memiliki kesibukan masing-masing, tak ada alasan untuk tidak bersilaturahim, menyambung tali kasih (asah,asih dan asuh). Riungan sastra ini secara langsung melestarikan kearifan lokal agar tidak tergerus dengan zaman yang semakin modern.

       Abah Yoyok sendiri mengatakan seperti ini “Untuk bisa berkarya dengan baik, segala sesuatunya berangkat dari kegelisahan. Berawal dari kegelisahan ini nantinya melahirkan sebuah karya atau apapun namanya. Setelah kegelisahan timbul, kita kan bersikap Nang (tenang). Jiwa tenang dan hati tenang yang nantinya kita mampu menuntun kita untuk membuka mata hati dan pikiran untuk melahirkan sebuah karya. Lalu ketenangan akan sampai pada Ning (hening). Dalam hening sebagai penyair maupun seniman akan melakukan evaluasi diri, dimana kekurangannya dan lain sebagainya. Semakin keheningan kita kuasai tibalah yang namanya Nung (merenung), merenungkan apa yang menjadi kegelisahan.Inilah suatu proses bagi seniman maupun penyair merasakan sebuah kerinduan akan pensejatian diri.”

      Sependapat dengan Abah Yoyok, pemahaman saya seperti ini: Kata Nang Ning Nung merupakan kata yang tidak dapat dipahami secara hurufiah saja, melainkan mesti dipahami secara historis dan filosofis. Karena tentu sangat menarik apabila hal ini kita kaji dari sudut aneka ilmu pengetahuan dan epistemologi.

     Menanggapi puisi Nang Ning Nung mas Handoko F Zainsam aku berpendapat bahwa untuk memahami puisi ini sebagai untuk pemahaman awal kita harus membaca Filsafat dan Teologi. Atau juga dapat kita pelajari Suluk Sasmita halaman pertama, Suluk Abdul Qadir Jailani, Suluk Siti Jenar, dan lain sebagainya. 

       Demikian pemahaman saya dalam riungan sastra minggu ini. Masih dinantikan untuk masukan-masukan terbaiknya  untuk perbaikan selanjutnya. terima kasih.

















































































Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter