Minggu, 24 Agustus 2014

Posted by Unknown in | 18.00 No comments

Oleh: Tika D. Pangastuti

Dalam suatu kesempatan saya menemui salah seorang penikmat lukis dibilangan Tangerang Selatan. Pria yang biasa dipanggil Pakde ini bernama Yakub S. Budi yang memilih berkesenian dan berkarya sebagai kegemaran hidupnya.
Bermula mendirikan sebuah Komunitas Orang Pinggiran dan Kelompok  Seniman Jalanan Boyolali (KSBJ) beberapa tahun silam, mengantarkannya pada sebuah jalan untuk memulai berkesenian. Salah satunya dapat diwujudkan melalui kepeduliannya terhadap musisi jalanan.
Melalui Hal ini, Pakde kerap berkumpul dengan rekan-rekannya untuk menggagas ide-ide segar yang kemudian menjadi wadah apresiasi untuk kalangan muda saat itu. Pria kelahiran Malang ini mengaku pernah berjualan roti keliling sambil menjadi pengamen puisi didalam bus Boyolali-Yogyakarta, saat ia masih tinggal di Boyolali.
Jauh sebelum itu, melukis sudah dimulainya sejak ia diminta melukiskan suatu karya oleh rekannya kala itu. Yang sejatinya ia tidak menyangka akan menjadi sebuah lukisan yang indah. Melukis baru digelutinya pada 2001 lalu dengan tidak melupakan menanggalkan komunitasnya. Ia tak menyesal dengan prosesnya saat ini yang baginya memiliki sejarah dalam hidupnya.
“Bagi saya, yang berangkat dari kegelisahan itulah harus dituangkan menjadi sesuatu yang bernilai. Kenali potensi sejak dini yang lebih baik.” Tutur Pakde dibalik kepulan asap rokoknya.
Sebagai kegemaran dalam menulis, Pakde sedang mempersiapkan novel perjalanan hidup yang ditulisnya sendiri, yang berisikan perjalanan-perjalanan hidup dan karirmya sebagi seorang penikmat seni. Saat ini ia bergabung sebagai mentor seni lukis di Rumah Pintar, BSD Tangsel sebagai bentuk apresiasi seninya. Saat ini ia tinggal di Babakan Pocis Jl. Swadaya Tangerang Selatan. 


Beberapa karya-karyanya


Selasa, 08 Juli 2014

Posted by Unknown in | 10.32 No comments
oleh: Tika D. Pangastuti


Momen yang ditunggu-tunggu bagi seluruh warga negara Indonesia dalam memilih pemimpin yang bersih, merakyat dan sederhana. Tidak mengurai bagaimana euforia itu berlangsung, hanya terbesit keinginan untuk menulis kaitan antara seni dan politik menjelang pemilihan pilpres 2014 ini. Sebagai penikmat seni kita acapkali sering ditanyai oleh beragam pertanyaan seperti: apa kaitan antara seni dan politik, bagaimana hubungan antara seni dan politik serta dimana letak kekuatan seni dalam politik.
Dalam pengertian yang agak ketat, seni sering dimaknai sebagai tindakan manusia (baik sebagai proses maupun hasilnya) yang dilakukan dalam rangka atau didasarkan pada penyesuaian “rasa”. Lebih sempit lagi dalam rangka rekayasa aestetika, dalam ukuran indah dan tidak-indah. Sedangkan politik adalah segala tindakan manusia (baik proses maupun hasilnya) dalam rangka menyesuaikan “ketaatan” pada negara. Dalam axiology, parameter seni adalah aestetika/keindahan (indah maupun tidak indah), sedangkan parameter politik adalah ketaatan(maupun ke-tidaktaat-an). Dua jenis tindakan tersebut, walaupun parameter (keberhasilan)nya berbeda, tetapi memiliki persyaratan pilihan yang sama, yaitu bebas. Setiap manusia boleh secara bebas memilih gaya berkeseniannya, boleh menyukai atau tidak menyukai karya seni tertentu. Begitu pula berpolitik, walaupun urusannya adalah perkara taat atau tidak taat, setiap manusia boleh memilih sikapnya terhadap negara, terhadap kelompok orang, terhadap masyarakat, apakah harus taat atau tidak taat terhadapnya.

Seni Sebagai Alat Atau Media Politik
Dalam bentuknya yang paling popular, biasanya lebih sering seni muncul sebagai alat atau media politik. Apalagi di musim kampanye sekarang ini. Para politisi beramai-ramai ujug-ujug muncul sebagai artis, sebagai pelawak, sebagai pendonor kegiatan kesenian. Poster, jingle dan lain-lain perhelatan kesenian menjadi kendaraan politik bagi sejumlah kepentingan. Dalam pengertian semacam ini seni menjadi sub-ordinasi politik.  Ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus tertentu sesekali seni bisa menjadi sub-ordinat dari politik. Pada kasus lain, nanti akan kita dapati bahwa seni justru lebih unggul daripada politik.

Politik Sebagai Objek Seni
Suatu ketika, bahkan seni mempunyai posisi sebagai subjek peristiwa dimana politik hanya berperan sebagai objek seni. Pada karya-karya karikatur, teater, ataupun pergelaran wayang kulit misalnya, seringkali persoalan politik dan politisinya menjadi bulan-bulanan seniman, mereka muncul sebagai komponen karya tak lebih sebagai alat penyeimbang rasa saja.

Politisi Sekaligus Seniman
Jika uraian pendapat diatas mengandung kebenaran maka menjadi wajar saja bahwa ada sejumlah orang yang mempunyai reputasi yang bagus di kedua profesi tersebut. Banyak politisi yang sekaligus merupakan seniman yang handal di bidangnya. Ambil contoh seperti Bung Karno misalnya, dia adalah seorang arsitek sekaligus orator dan pemimpin politik kelas dunia. Koleksi lukisan dan patungnya dibukukan dan menjadi literatur penting dalam seni rupa Indonesia. Gus Dur, presiden eksentrik itu adalah juga seorang sastrawan yang pernah menjadi ketua Festival Film Indonesia.
Di Eropa ada Hitler yang menghebohkan Perang Dunia itu juga ternyata adalah seorang pelukis. Vaclav Havel yang pernah menjadi presiden Cheko itu juga merupakan sastrawan kenamaan.



Senin, 07 Juli 2014

Posted by Unknown in | 02.04 No comments

Bisik syahdu dilentera sore
Mengayun langkah dipertapaan jiwa yang damai
Bersama lembut sapaan daun yang membisik
Dengan cekatan aku mendekat pada ranting yang putus
Mengukir nama kita disana…

Rindu memecah sadarku perlahan
Tanpa ampun sadari jiwa ku tertambat pada
Angiospermae disini
Tempat kita merajut kejayaan kalbu
Pertama kali


Serpong, 21 april 2009





**Angiospermae tumbuhan Golongan berbiji tertutup memiliki tingkat keanekaragaman yang tertinggi dalam dunia tumbuhan. Memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah, mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba. 


Selasa, 01 Juli 2014

Posted by Unknown in | 10.23 No comments
Oleh: Tika D. Pangastuti

Adik-adik ini sedang membuat kerajinan tangan, yang bernama kokoru. Yang nantinya bisa digunakan untuk hiasan alat tulis, kerajinan dan bahkan bernilai seni. Wah..serunya adik-adik ini, yang berkumpul di Kostum Library (perpustakaan Kostum) di bilangan Pengasinan Gunung Sindur. 









Minggu, 29 Juni 2014

Posted by Unknown in | 23.21 No comments
Oleh: Tika D. Pangastuti


Taman Baca Anak Matahari (TBAM) Setu-Tangsel ini baru ada pada januari 2014. Taman baca yang diperuntukan untuk anak dan remaja ini mulai diminati keberadaannya yang menyatu dengan alam. Bukan tanpa alasan, kampung Setu, yang asri dikelilingi pohon-pohon rindang ditengah perkampungan yang juga dibatasi oleh sebuah anak sungai, yang mendorong taman baca ini diminati keberadaannya.
Awalnya taman baca ini hanya memiliki koleksi beberapa buku saja. Pembuatan saung untuk meletakkan buku-buku dilakukan secara gotong royong dengan alat-alat seadanya. Kemudian adanya kegiatan secara rutin mendorong masyarakat semakin mengetahui keberadaan taman baca anak matahari ini. Lalu beberapa ada yang memberikan sumbangan buku-buku maupun alat tulis secara sukarela.
Beberapa kegiatan yang sudah dilakukan TBAM, antara lain: Belajar sablon, belajar angklung, berkemah, seminar motivasi, mengenalkan permainan tradisional, dan masih banyak lagi. Tidak hanya berkumpul di sinipun turut menanamkan nilai-nilai gotong royong dalam kesederhanaan. Seperti membersihkan lingkungan yang disekitar taman baca, musyawarah dalam menentukan kegiatan apa yang harus dilakukan, dan membuat saung secara gotong-royong.
Tentu kita belajar dari potret taman baca anak matahari (TBAM) Setu ini dengan kebersamaan dalam kesederhanaan, berusaha belajar dengan kesadaran berkelompok dan tanggung jawab.
Bagi yang ingin berkontribusi menyumbangkan buku-buku, alat tulis, berbagi ide-ide kratif dan yang bersedia membagi pikiran-pikirannya, langsung datang ke Jl. Puspitek Raya Kp. Setu Gg Masjid Rt 17/04 No. 35 kel. Setu Kec. Setu Tangsel-Banten 15314. Atau hubungi Shandy (083-898-729-909) pin 76396E1A. dapat diakses twitter: @tba_matahari. Facebook: Taman Baca Anak Matahari.





Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter