Minggu, 21 Februari 2016

Posted by Unknown in | 04.05 No comments
Bangkai-bangkai bertabur
bangau-bangau di irisan kota
bersama hujan yang enggan diam



Tambun, Bekasi 2016

Sabtu, 20 Februari 2016

Posted by Unknown in | 10.59 No comments


Proses belajar kerap dikaitkan dengan kondisi dimana seorang siswa mampu mendapatkan hasil yang maksimal. Terutama pada anak-anak yang menginjak usia bangku sekolah, diantaranya mampu bersosialisasi dengan baik terhadap guru dan teman-teman, memperoleh peringkat tertinggi dikelas dan tidak mengalami hambatan selama proses belajar. Tentu hal demikian hanya terjadi pada siswa yang memiliki kemampuan serta kecakapan dalam mengelola suatu proses pembelajaran yang baik. Lalu bagaimana dengan seorang anak yang mengalami gangguan belajar?
Menurut data yang dihimpun berdasarkan US. Department of Education (1998) sebanyak 5,7% dari siswa yang bersekolah di sekolah umum mengalami “gangguan belajar” dan sementara sebanyak 50,5% dari siswa yang mendapat layanan khusus teridentifikasi mengalami “gangguan belajar”. Itu artinya bahwa misalnya dalam satu angkatan terdapat 50 orang siswa, maka kemungkinan yang mengalami gangguan belajar disekolah umum antara 2 hingga 3 orang. Sementara dari 50,5% siswa yang mendapat layanan khusus sedikitnya terdapat 25 orang anak.
Learning Disability atau gangguan belajar yang dialami siswa dengan adannya hambatan-hambatan maupun kesulitan-kesulitan sehingga hal tersebut mempengaruhi proses belajar. Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan belajar tidak seperti penyakit pada umumnya yang mudah diidentifikasi, namun ciri-ciri tersebut tidak nampak secara umum, hanya dapat diidentifikasi melalui beberapa faktor seperti kondsi fisik, psikologi, ekonomi, sosial dan emosi. Berawal dari faktor-fakor itu anak yang mengalami gangguan belajar berhak memerlukan layanan khusus, sesuai dengan Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32 ayat 2 mengatakan: “Pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, dan tidak mampu dari segi ekonomi.”¹
Learning Disabilitiy(LD) secara umum gangguan neurologis yang menyebabkan anak mengalami kesulitan didalam memperoleh keterampilan akademik dan keterampilan sosial. LD bukan sekedar kesulitan didalam belajar namun merupakan gangguan neurologis yang mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima, memproses, menyimpan dan merespon informasi. Mereka melihat, mendengar dan mengerti dengan cara yang berbeda. Anak Berkebutuhan Khusus mempunyai kelainan seperti; tidak ada kemauan yang keras, tidak dapat memberikan perhatian lebih atau tidak dapat meningkatkan motivasi untuk dirinya sendiri. Mereka memerlukan pertolongan untuk mengerti bagaimana mengerjakan segala sesuatunya.
Terdapat perbedaan definisi antara disabilitas dengan anak berkebutuhan khusus antara lain:
1.       Disabilitas merupakan suatu ketidakmampuan tubuh dalam melakukan suatu aktifitas atau kegiatan tertentu sebagaimana orang normal pada umumnya yang disebabkan oleh kondisi ketidakmampuan dalam hal fisiologis, psikologis dan kelainan struktur atau fungsi anatomi. Dahulu disabilitas lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan penyandang cacat. Penyandang disabilitas merupakan orang yang mempunyai keterbatasan mental, fisik, intelektual maupun sensorik yang dialami dalam jangka waktu lama. Ketika penyandang disabilitas berhadapan dengan hambatan maka hal itu akan menyulitkan mereka dalam berpartisipasi penuh dan efektif dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan kesamaan hak.²
2.       Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan fisik, pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Istilah lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah Anak Luar Biasa.³
Penyebab kesulitan belajar antara lain seperti:
1.       hambatan intelektual,
2.       masalah kesehatan fisik
3.       masalah pengelihatan dan pendengaran
4.       masalah keluarga
5.       masalah disekolah (seperti digertak) yang menganggu anak.

Area gangguan seperti :
1.       Disleksia, merupakan kesulitan belajar spesifik yang mempengaruhi perkembangan bahasa dan membaca serta dasar fungsi dan perkembangan bahasa yang lainnya. Contoh: Anak dalam membaca tulisan ABI, tetapi diucapkan  oleh anak  IBU
2.       Dispraksia, merupakan kesulitan dalam bertindak/bergerak.
Contoh: anak mengambil gelas pada tempatnya tetapi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mengambil gelas tersebut. Karena si anak berpikir bahwa kata “mengambil” hanya sebatas menyentuh gelas saja tanpa melakukan gerak pemindahan terhadap gelas.
3.       Diskalkulia, merupakan kesulitan dalam belajar matematika, sulit memahami objek-objek matematika berupa konsep, prinsip, fakta dan algoritma sehingga sulit menyelesaikan soal-soal matematika yang diberikan.
Contoh: Teori Phytagoras dalam soal cerita akan menyulitkan anak untuk menyelesaikan soal hitungan metematika, daripada aplikasi rumus/teori yang di tuang dalam angka langsung.
4.       Disgrafia, merupakan kekurang mampuan dalam menulis tangan, tanpa memperhatikan kemampuan dalam membaca bukan disebabkan oleh kelemahan intelektual.
Contoh: Apa yang dibaca anak akan berbeda dengan yang anak tulis.

Karakteristik Psikologis dan Perilaku
Secara umum orang yang mengalami gangguan belajar mengalami:
1.       Kesulitan dalam hal menyalin atau menulis hal-hal tertentu ,
2.       Hambatan /lama dalam menulis tangan
3.       Masalah berbicara dan masalah bahasa ketika kanak-kanak tetapi biasanya mengalami perkembangan yang baik pada tahap selanjutnya,
4.       Masalah dalam mengingat angka: nomor tlp, nomor registrasi, nama orang, membaca peta dan tabel.
Penyebab gangguan belajar
1.       Genetik
2.       Obat-obatan
3.       Cedera otak/trauma fisik-kekurangan oksigen
4.       Gangguan perkembangan syaraf
5.       Ketidakseimbangan zat-zat kimiawi dalam otak.

Diperlukannya identifikasi sejak dini oleh pengajar maupun orangtua yang diharapkan mampu memberikan penanganan secara tepat dan efektif  kepada anak. Dengan demikian mampu memberikan strategi-strategi pengajaran, sebagai berikut:
1.       Manajemen Kelas
Kelas kondusif dan terstruktur membuat peserta didik akan memiliki sikap aman dan nyaman dalam menentukan sikap selama pelajaran berlangsung. Hal berbeda ketika suasana kelas yang kurang kondusif, sangat mungkin peserta didik mengalami gangguan belajar.
Contoh: sebelum pelajaran dimulai, para pendidik hendaknya menyampaikan tujuan pembelajaran, menguraikan tata tertib, menyarankan untuk tidak mengaktifkan telepon seluler, serta peraturan penting lainnya. Dalam hal ini bertujuan untuk membangun antusiasme siswa untuk bertanggung jawab serta disiplin.

2.       Komunikasi dan mengajarkan percaya diri
Pendidik dapat memberikan motivasi tambahan seperti kata-kata mutiara pembangkit semangat, membuka sesi Tanya jawab, maupun membuka dialog interaktif, yang bertujuan memupuk percaya diri tiap peserta didik.
                                 Adapun strategi pengajaran dalam pencapaian akademis, seperti:
1.       Membaca
2.       Menulis
3.       Berhitung

Strategi pembelajaran Literasi/Bahasa (membaca dan menulis):
1.       Pemenuhan persyaratan kebutuhan belajar
2.       Tahapan bunyi alphabetic: dikenalkan dengan bunyi-bunyi objek yang mewakili simbol bunyi-bunyi huruf
3.       Tahap decoding: memberi tanda untu setiap bunyi yang muncul yang mewakili bunyi-bunyi huruf.
4.       Tahap memnaca lancer: diarahkan untuk mampu membca lambing bunyi dalam setiap kata/kalimat.
5.       Tahap membaca untuk belajar: membaca untuk proses belajar selanjutnya.

Strategi dalam pembelajaran menulis:
1.       Tahap persiapan: menegenal nama huruf, menulis nama huruf
2.       Tahap konsolidasi: berkembang pada usia 6-7 tahun, pada fase ini anak mulai memiliki keterampilan menulis
3.       Tahap diferensiasi: berkembang pada usia 10tahun, nak sudah mulai memiliki kemampuan membedakan bentuk bahasa tulis dan bahasa ujaran.
4.       Tahap integrasi sistematik: berkembang mulai akhir tahap usia SMA. Anak mampu mengintegrasikan bahasa tulis dan bahasa ujaran dan mulai mampu mengaplkasikan gaya, aturan dari keduanya.

Strategi Pembelajaran Numerasi/Berhitung
1.       Mengenal bilangan dan angka
2.       Menghitung maju (counting-on)
3.       Menghitung mundur (counting-back)
4.       Bilangan di antara (skip sounting)

Beberapa masalah dan strategi di atas dapat disimpulkan bahwa setiap anak memiliki potensi masing-masing dalam proses pembelajarannya. Sebagai orang tua dalam mengamati perkembangan anak perlu mengidentifikasi secara dini apa saja kesulitan maupun gangguan-gangguan yang dialami anak sehingga mampu menentukan penanganan yang efektif. Selain itu penanganan anak yang mengalami gangguan belajar tidak diobati dengan menggunakan obat. Hal ini dapat ditegaskan melalui perbanyak latihan, secara bertahap dan juga diarahkan. Sehingga seorang anak terlatih untuk menggunakan otak kanan dan kiri untuk mengolah pembelajarannya, mulai dari mendengar, melihat, hingga membaca dan berbicara.
Anak memiliki kemungkinan untuk dapat mengolah informasi dengan baik namun tidak diproses di dalam otak. Demikian yang timbul adalah kekeliruan persepsi. Penanganannya cukup dengan membangun persepsi motorik pada anak. Contoh kasus: anak dicontohkan mencuci tangan yang baik dan benar, kita sebagai pendamping anak juga harus ikut cuci tangan. Tidak hanya memberi tahu secara lisan, tapi juga dengan tindakan. Anak akan antusias jika apa yang dipelajarinya adalah nyata. Setelah Anak Berkebutuhan Khusus diberikan pelatihan untuk mengembalikan dan menguatkan konsentrasinya, maka dia dapat menggunakan otaknya secara optimal. Pada keadaan yang demikianlah baru anak siap untuk belajar, dan jika diperlukan dapat diberikan les privat atau pelajaran tambahan lainnya. Dengan demikian hasil yang diharapkan dapat kita capai.


                      


Posted by Unknown in | 10.56 No comments


Diskusi
Aksi
Kaderisasi
Bela Negara
Hm….apa lagi (Tapi kok)
Sepi
Pasif
Hedonis
Acuh
Gak ada duitnya
Kabuuuurrr
Kelar urusan..mati akal
Anak ribut mainan cina
Mama minta pulsa
Ada minta saham
Minta transfer
Bahkan minta maaf

Lalu…
Sepetak jengkal
Yang liar tak berijin
Kumuh tak sehat
Tuduh surat palsu
Tak layak huni pungkasmu
RATAKAN…
Manusia manusia tereliminasi hak nya


Gugat menguggat tak ada sepah
Hilang nyawa bagi melawan
Anak mati diujung gang terinjak tiang baliho dan matanya menyala
Pengawal menatap sinis dan nyinyir sadis

Menyatu pada nafas massa
Ingatan kami tajam
Tak lumpuh oleh timah
Atau bahkan gertak sambal

Dilorong-lorong kota
Menanti iba penguasa
Namun yang tersisa hanya hina, angkara bersampul
Drama juga pesona
Dibelai angan yang penuh dusta
Pada bangsa yang setengah mabuk
Dan Sarinah Suatu Pagi……….
Mak…pergi dulu kataku
Tugas besar menanti tanggung jawabku
Tanpa firasat ku titip satu doa untuk negeri ini
Dibalik jurang menara pencakar langit
Aku berteman langkah dan waktu
Hingga ke tugu tugasku ditempatkan
Tak lama… bunyi laras susul hantaman tikai yang tak mereda
Merobek robek perasaan bangsa yang tengah sakit sosial,ekonomi hukum.
Manusia tak bersalah jatuh tergilas darah
Darah yang sia sia dari sebuah tragedi
Melindungi bangsa segenap tumpah darah
tertib dunia dasar damai abadi
Belum jadi kehendak besar
Ya…karna rumah kami sedang kecolongan



Jakarta Malam 2015



Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter