Proses
belajar kerap dikaitkan dengan kondisi dimana seorang siswa mampu mendapatkan
hasil yang maksimal. Terutama pada anak-anak yang menginjak usia bangku
sekolah, diantaranya mampu bersosialisasi dengan baik terhadap guru dan
teman-teman, memperoleh peringkat tertinggi dikelas dan tidak mengalami
hambatan selama proses belajar. Tentu hal demikian hanya terjadi pada siswa
yang memiliki kemampuan serta kecakapan dalam mengelola suatu proses
pembelajaran yang baik. Lalu bagaimana dengan seorang anak yang mengalami
gangguan belajar?
Menurut
data yang dihimpun berdasarkan US.
Department of Education (1998) sebanyak 5,7% dari siswa yang bersekolah di
sekolah umum mengalami “gangguan belajar” dan sementara sebanyak 50,5% dari
siswa yang mendapat layanan khusus teridentifikasi mengalami “gangguan
belajar”. Itu artinya bahwa misalnya dalam satu angkatan terdapat 50 orang
siswa, maka kemungkinan yang mengalami gangguan belajar disekolah umum antara 2
hingga 3 orang. Sementara dari 50,5% siswa yang mendapat layanan khusus
sedikitnya terdapat 25 orang anak.
Learning Disability
atau gangguan belajar yang dialami siswa dengan adannya hambatan-hambatan
maupun kesulitan-kesulitan sehingga hal tersebut mempengaruhi proses belajar.
Ciri-ciri orang yang mengalami gangguan belajar tidak seperti penyakit pada
umumnya yang mudah diidentifikasi, namun ciri-ciri tersebut tidak nampak secara
umum, hanya dapat diidentifikasi melalui beberapa faktor seperti kondsi fisik,
psikologi, ekonomi, sosial dan emosi. Berawal dari faktor-fakor itu anak yang
mengalami gangguan belajar berhak memerlukan layanan khusus, sesuai dengan
Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 32
ayat 2 mengatakan: “Pendidikan layanan
khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di daerah terpencil atau
terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam,
dan tidak mampu dari segi ekonomi.”¹
Learning Disabilitiy(LD)
secara umum gangguan neurologis yang menyebabkan anak mengalami kesulitan
didalam memperoleh keterampilan akademik dan keterampilan sosial. LD bukan
sekedar kesulitan didalam belajar namun merupakan gangguan neurologis yang
mempengaruhi kemampuan otak untuk menerima, memproses, menyimpan dan merespon
informasi. Mereka melihat, mendengar dan mengerti dengan cara yang berbeda.
Anak Berkebutuhan Khusus mempunyai kelainan seperti; tidak ada kemauan yang
keras, tidak dapat memberikan perhatian lebih atau tidak dapat meningkatkan
motivasi untuk dirinya sendiri. Mereka memerlukan pertolongan untuk mengerti
bagaimana mengerjakan segala sesuatunya.
Terdapat
perbedaan definisi antara disabilitas dengan anak berkebutuhan khusus antara
lain:
1. Disabilitas
merupakan suatu ketidakmampuan tubuh dalam melakukan suatu aktifitas atau
kegiatan tertentu sebagaimana orang normal pada umumnya yang disebabkan oleh
kondisi ketidakmampuan dalam hal fisiologis, psikologis dan kelainan struktur
atau fungsi anatomi. Dahulu disabilitas lebih dikenal oleh masyarakat dengan
sebutan penyandang cacat. Penyandang disabilitas merupakan orang yang mempunyai
keterbatasan mental, fisik, intelektual maupun sensorik yang dialami dalam
jangka waktu lama. Ketika penyandang disabilitas berhadapan dengan hambatan
maka hal itu akan menyulitkan mereka dalam berpartisipasi penuh dan efektif
dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan kesamaan hak.²
2. Anak
berkebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan (bermakna) mengalami
kelainan atau penyimpangan fisik, pertumbuhan atau perkembangannya dibandingkan
dengan anak-anak lain sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Istilah
lain bagi anak berkebutuhan khusus adalah Anak Luar Biasa.³
Penyebab kesulitan belajar antara lain
seperti:
1. hambatan
intelektual,
2. masalah
kesehatan fisik
3. masalah
pengelihatan dan pendengaran
4. masalah
keluarga
5. masalah
disekolah (seperti digertak) yang menganggu anak.
Area gangguan seperti :
1.
Disleksia,
merupakan kesulitan belajar spesifik yang mempengaruhi perkembangan bahasa dan
membaca serta dasar fungsi dan perkembangan bahasa yang lainnya. Contoh: Anak
dalam membaca tulisan ABI, tetapi
diucapkan oleh anak IBU
2. Dispraksia,
merupakan kesulitan dalam bertindak/bergerak.
Contoh: anak mengambil gelas pada
tempatnya tetapi fisiknya yang tidak memungkinkan untuk mengambil gelas
tersebut. Karena si anak berpikir bahwa kata “mengambil” hanya sebatas
menyentuh gelas saja tanpa melakukan gerak pemindahan terhadap gelas.
3. Diskalkulia, merupakan
kesulitan dalam belajar matematika, sulit memahami objek-objek matematika
berupa konsep, prinsip, fakta dan algoritma sehingga sulit menyelesaikan
soal-soal matematika yang diberikan.
Contoh: Teori Phytagoras dalam soal
cerita akan menyulitkan anak untuk menyelesaikan soal hitungan metematika,
daripada aplikasi rumus/teori yang di tuang dalam angka langsung.
4. Disgrafia,
merupakan kekurang mampuan dalam menulis tangan, tanpa memperhatikan kemampuan
dalam membaca bukan disebabkan oleh kelemahan intelektual.
Contoh: Apa yang dibaca anak akan
berbeda dengan yang anak tulis.
Karakteristik Psikologis dan Perilaku
Secara umum orang yang mengalami
gangguan belajar mengalami:
1. Kesulitan
dalam hal menyalin atau menulis hal-hal tertentu ,
2. Hambatan
/lama dalam menulis tangan
3. Masalah
berbicara dan masalah bahasa ketika kanak-kanak tetapi biasanya mengalami
perkembangan yang baik pada tahap selanjutnya,
4. Masalah
dalam mengingat angka: nomor tlp, nomor registrasi, nama orang, membaca peta
dan tabel.
Penyebab
gangguan belajar
1. Genetik
2. Obat-obatan
3. Cedera
otak/trauma fisik-kekurangan oksigen
4. Gangguan
perkembangan syaraf
5. Ketidakseimbangan
zat-zat kimiawi dalam otak.
Diperlukannya
identifikasi sejak dini oleh pengajar maupun orangtua yang diharapkan mampu
memberikan penanganan secara tepat dan efektif
kepada anak. Dengan demikian mampu memberikan strategi-strategi pengajaran,
sebagai berikut:
1. Manajemen
Kelas
Kelas kondusif dan terstruktur membuat
peserta didik akan memiliki sikap aman dan nyaman dalam menentukan sikap selama
pelajaran berlangsung. Hal berbeda ketika suasana kelas yang kurang kondusif,
sangat mungkin peserta didik mengalami gangguan belajar.
Contoh: sebelum pelajaran dimulai, para
pendidik hendaknya menyampaikan tujuan pembelajaran, menguraikan tata tertib,
menyarankan untuk tidak mengaktifkan telepon seluler, serta peraturan penting
lainnya. Dalam hal ini bertujuan untuk membangun antusiasme siswa untuk
bertanggung jawab serta disiplin.
2. Komunikasi
dan mengajarkan percaya diri
Pendidik dapat memberikan motivasi tambahan seperti
kata-kata mutiara pembangkit semangat, membuka sesi Tanya jawab, maupun membuka
dialog interaktif, yang bertujuan memupuk percaya diri tiap peserta didik.
Adapun strategi pengajaran dalam pencapaian
akademis, seperti:
1. Membaca
2. Menulis
3. Berhitung
Strategi pembelajaran Literasi/Bahasa
(membaca dan menulis):
1. Pemenuhan
persyaratan kebutuhan belajar
2. Tahapan
bunyi alphabetic: dikenalkan dengan bunyi-bunyi objek yang mewakili simbol
bunyi-bunyi huruf
3. Tahap
decoding: memberi tanda untu setiap bunyi yang muncul yang mewakili bunyi-bunyi
huruf.
4. Tahap
memnaca lancer: diarahkan untuk mampu membca lambing bunyi dalam setiap
kata/kalimat.
5. Tahap
membaca untuk belajar: membaca untuk proses belajar selanjutnya.
Strategi dalam pembelajaran menulis:
1. Tahap
persiapan: menegenal nama huruf, menulis nama huruf
2. Tahap
konsolidasi: berkembang pada usia 6-7 tahun, pada fase ini anak mulai memiliki
keterampilan menulis
3. Tahap
diferensiasi: berkembang pada usia 10tahun, nak sudah mulai memiliki kemampuan
membedakan bentuk bahasa tulis dan bahasa ujaran.
4. Tahap
integrasi sistematik: berkembang mulai akhir tahap usia SMA. Anak mampu
mengintegrasikan bahasa tulis dan bahasa ujaran dan mulai mampu mengaplkasikan
gaya, aturan dari keduanya.
Strategi Pembelajaran Numerasi/Berhitung
1. Mengenal
bilangan dan angka
2. Menghitung
maju (counting-on)
3. Menghitung
mundur (counting-back)
4. Bilangan
di antara (skip sounting)
Beberapa
masalah dan strategi di atas dapat disimpulkan bahwa setiap anak memiliki
potensi masing-masing dalam proses pembelajarannya. Sebagai orang tua dalam
mengamati perkembangan anak perlu mengidentifikasi secara dini apa saja
kesulitan maupun gangguan-gangguan yang dialami anak sehingga mampu menentukan penanganan
yang efektif. Selain itu penanganan anak yang mengalami gangguan belajar tidak
diobati dengan menggunakan obat. Hal ini dapat ditegaskan melalui perbanyak
latihan, secara bertahap dan juga diarahkan. Sehingga seorang anak terlatih
untuk menggunakan otak kanan dan kiri untuk mengolah pembelajarannya, mulai
dari mendengar, melihat, hingga membaca dan berbicara.
Anak
memiliki kemungkinan untuk dapat mengolah informasi dengan baik namun tidak diproses
di dalam otak. Demikian yang timbul adalah kekeliruan persepsi. Penanganannya
cukup dengan membangun persepsi motorik pada anak. Contoh kasus: anak
dicontohkan mencuci tangan yang baik dan benar, kita sebagai pendamping anak
juga harus ikut cuci tangan. Tidak hanya memberi tahu secara lisan, tapi juga
dengan tindakan. Anak akan antusias jika apa yang dipelajarinya adalah nyata. Setelah
Anak Berkebutuhan Khusus diberikan pelatihan untuk mengembalikan dan menguatkan
konsentrasinya, maka dia dapat menggunakan otaknya secara optimal. Pada keadaan
yang demikianlah baru anak siap untuk belajar, dan jika diperlukan dapat
diberikan les privat atau pelajaran tambahan lainnya. Dengan demikian hasil
yang diharapkan dapat kita capai.