Selasa, 08 Juli 2014

Posted by Unknown in | 10.32 No comments
oleh: Tika D. Pangastuti


Momen yang ditunggu-tunggu bagi seluruh warga negara Indonesia dalam memilih pemimpin yang bersih, merakyat dan sederhana. Tidak mengurai bagaimana euforia itu berlangsung, hanya terbesit keinginan untuk menulis kaitan antara seni dan politik menjelang pemilihan pilpres 2014 ini. Sebagai penikmat seni kita acapkali sering ditanyai oleh beragam pertanyaan seperti: apa kaitan antara seni dan politik, bagaimana hubungan antara seni dan politik serta dimana letak kekuatan seni dalam politik.
Dalam pengertian yang agak ketat, seni sering dimaknai sebagai tindakan manusia (baik sebagai proses maupun hasilnya) yang dilakukan dalam rangka atau didasarkan pada penyesuaian “rasa”. Lebih sempit lagi dalam rangka rekayasa aestetika, dalam ukuran indah dan tidak-indah. Sedangkan politik adalah segala tindakan manusia (baik proses maupun hasilnya) dalam rangka menyesuaikan “ketaatan” pada negara. Dalam axiology, parameter seni adalah aestetika/keindahan (indah maupun tidak indah), sedangkan parameter politik adalah ketaatan(maupun ke-tidaktaat-an). Dua jenis tindakan tersebut, walaupun parameter (keberhasilan)nya berbeda, tetapi memiliki persyaratan pilihan yang sama, yaitu bebas. Setiap manusia boleh secara bebas memilih gaya berkeseniannya, boleh menyukai atau tidak menyukai karya seni tertentu. Begitu pula berpolitik, walaupun urusannya adalah perkara taat atau tidak taat, setiap manusia boleh memilih sikapnya terhadap negara, terhadap kelompok orang, terhadap masyarakat, apakah harus taat atau tidak taat terhadapnya.

Seni Sebagai Alat Atau Media Politik
Dalam bentuknya yang paling popular, biasanya lebih sering seni muncul sebagai alat atau media politik. Apalagi di musim kampanye sekarang ini. Para politisi beramai-ramai ujug-ujug muncul sebagai artis, sebagai pelawak, sebagai pendonor kegiatan kesenian. Poster, jingle dan lain-lain perhelatan kesenian menjadi kendaraan politik bagi sejumlah kepentingan. Dalam pengertian semacam ini seni menjadi sub-ordinasi politik.  Ini menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus tertentu sesekali seni bisa menjadi sub-ordinat dari politik. Pada kasus lain, nanti akan kita dapati bahwa seni justru lebih unggul daripada politik.

Politik Sebagai Objek Seni
Suatu ketika, bahkan seni mempunyai posisi sebagai subjek peristiwa dimana politik hanya berperan sebagai objek seni. Pada karya-karya karikatur, teater, ataupun pergelaran wayang kulit misalnya, seringkali persoalan politik dan politisinya menjadi bulan-bulanan seniman, mereka muncul sebagai komponen karya tak lebih sebagai alat penyeimbang rasa saja.

Politisi Sekaligus Seniman
Jika uraian pendapat diatas mengandung kebenaran maka menjadi wajar saja bahwa ada sejumlah orang yang mempunyai reputasi yang bagus di kedua profesi tersebut. Banyak politisi yang sekaligus merupakan seniman yang handal di bidangnya. Ambil contoh seperti Bung Karno misalnya, dia adalah seorang arsitek sekaligus orator dan pemimpin politik kelas dunia. Koleksi lukisan dan patungnya dibukukan dan menjadi literatur penting dalam seni rupa Indonesia. Gus Dur, presiden eksentrik itu adalah juga seorang sastrawan yang pernah menjadi ketua Festival Film Indonesia.
Di Eropa ada Hitler yang menghebohkan Perang Dunia itu juga ternyata adalah seorang pelukis. Vaclav Havel yang pernah menjadi presiden Cheko itu juga merupakan sastrawan kenamaan.



Senin, 07 Juli 2014

Posted by Unknown in | 02.04 No comments

Bisik syahdu dilentera sore
Mengayun langkah dipertapaan jiwa yang damai
Bersama lembut sapaan daun yang membisik
Dengan cekatan aku mendekat pada ranting yang putus
Mengukir nama kita disana…

Rindu memecah sadarku perlahan
Tanpa ampun sadari jiwa ku tertambat pada
Angiospermae disini
Tempat kita merajut kejayaan kalbu
Pertama kali


Serpong, 21 april 2009





**Angiospermae tumbuhan Golongan berbiji tertutup memiliki tingkat keanekaragaman yang tertinggi dalam dunia tumbuhan. Memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah, mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba. 


Selasa, 01 Juli 2014

Posted by Unknown in | 10.23 No comments
Oleh: Tika D. Pangastuti

Adik-adik ini sedang membuat kerajinan tangan, yang bernama kokoru. Yang nantinya bisa digunakan untuk hiasan alat tulis, kerajinan dan bahkan bernilai seni. Wah..serunya adik-adik ini, yang berkumpul di Kostum Library (perpustakaan Kostum) di bilangan Pengasinan Gunung Sindur. 









Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter