Oleh: Tika D. Pangastuti
Dalam suatu kesempatan saya menemui salah seorang penikmat lukis dibilangan Tangerang Selatan. Pria yang biasa dipanggil Pakde ini bernama Yakub S. Budi yang memilih berkesenian dan berkarya sebagai kegemaran hidupnya.
Dalam suatu kesempatan saya menemui salah seorang penikmat lukis dibilangan Tangerang Selatan. Pria yang biasa dipanggil Pakde ini bernama Yakub S. Budi yang memilih berkesenian dan berkarya sebagai kegemaran hidupnya.
Bermula
mendirikan sebuah Komunitas Orang Pinggiran dan Kelompok Seniman Jalanan Boyolali (KSBJ) beberapa tahun
silam, mengantarkannya pada sebuah jalan untuk memulai berkesenian. Salah satunya
dapat diwujudkan melalui kepeduliannya terhadap musisi jalanan.
Melalui
Hal ini, Pakde kerap berkumpul dengan
rekan-rekannya untuk menggagas ide-ide segar yang kemudian menjadi wadah apresiasi
untuk kalangan muda saat itu. Pria kelahiran Malang ini mengaku pernah
berjualan roti keliling sambil menjadi pengamen
puisi didalam bus Boyolali-Yogyakarta, saat ia masih tinggal di Boyolali.
Jauh
sebelum itu, melukis sudah dimulainya sejak ia diminta melukiskan suatu karya
oleh rekannya kala itu. Yang sejatinya ia tidak menyangka akan menjadi sebuah
lukisan yang indah. Melukis baru digelutinya pada 2001 lalu dengan tidak
melupakan menanggalkan komunitasnya. Ia tak menyesal dengan prosesnya saat ini
yang baginya memiliki sejarah dalam hidupnya.
“Bagi
saya, yang berangkat dari kegelisahan itulah harus dituangkan menjadi sesuatu
yang bernilai. Kenali potensi sejak dini yang lebih baik.” Tutur Pakde dibalik kepulan asap rokoknya.
Sebagai
kegemaran dalam menulis, Pakde sedang
mempersiapkan novel perjalanan hidup yang ditulisnya sendiri, yang berisikan
perjalanan-perjalanan hidup dan karirmya sebagi seorang penikmat seni. Saat ini
ia bergabung sebagai mentor seni lukis di Rumah Pintar, BSD Tangsel sebagai
bentuk apresiasi seninya. Saat ini ia tinggal di Babakan Pocis Jl. Swadaya
Tangerang Selatan.
Beberapa karya-karyanya

