Rabu, 28 Mei 2014

Posted by Unknown in | 22.31 No comments
Secara etimologis sastra berasal dari Bahasa Sansekerta, "Cas" yang artinya mengarahkan, mengajarkan, memberikan suatu petunjuk ataupun instruksi. "tra" artinya sarana atau alat. Secara harfiah berarti alat untuk mengajar, buku petunjuk ataupun pengajaran.
Sementara istilah su-sastra sendiri pada dasarnya berasal dari awalan su yang memiliki arti "indah, baik, sehingga susastra dibandingkan atau disejajarkan dengan belles-letters. Kata sastra sendiri muncul pertama kali dalam Bahasa Sansekerta. Kata itu terdapat dalam kitab bhagawadgita, yakni kitab yang berisi percakapan antara Arjuna dengan Kresna dalam perang Baratayudha ketika Kresna menjadi kusir Arjuna. Dari percakapan itu muncul pengertian yang abstrak tentang sastra. Sastra diartikan melebihi hukum, agama dan memiliki kekuatan yang dapat menguasai, menentramkan dan mengatur dunia.

Sastra pada masyarakat dan kelompok orang memiliki pengertian yang berbeda-beda, digunakan secara berbeda pula dan diposisikan secara berbeda sesuai dengan tujuan masing-masing. Misalnya:
Dalam tradisi masyarakat Cina atau Tionghoa, khusunya merujuk pada tradisi Konfusianisme. Sastra diposisikan sebagai salah satu cara untuk memahami realitas dan jalan hidup di dunia yang disebut Dao. Sastra dalam masyarakat Cina merupakan bagian dari kesatuan yang disebut dengan wen. Dalam Kamus Besar Cina-Indonesia yang disusun tim Universitas Beijing (1995:918-919) memiliki beberapa pengertian:
1. Huruf, tulisan, aksara, prasasti pada benda-benda kuno
2. Bahasa baik, tulis dan lisan.
3. Tulisan karangan yang mencerminkan orangnya, karya tulis
4. Bahasa Sastra dan bahasa Klasik
5. Kebudayaan, peradaban, dan peninggalan sejarah
6. halus sopan
7. gejala alam tertentu (ilmu bumi)
8. Upacara formalitas dan sipil
9. menutupi, menyembunyikan, baik kesalahan, kekurangan, kelemahan dan ketidakadilan.
10. Jabatan sipil
11. tembaga yang dipakai untuk uang
12. nama keluarga.

Dalam tradisi masyarakat Cina bahwa kesenian ataupun kesusastraan merupakan salah satu cara untuk menempuh jalan suci atau Dao. Wen dapat juga diartikan sebagai konsep atau paradigma. wen juga bisa berarti sebagai kategori ilmu humaniora, agama, moralitas, norma-norma dan hukum-hukum masyarakat. Ajaran Konghucu memandang wen sebagai posisi utama dalam memahami realitas. Realitas juga dapat berupa Dao. Tanpa wen manusia tidak akan mampu memahami Dao (jalan) dan tidak mampu menangkap realitas secara keseluruhan. Ilmu dan teknologi hanya dapat mebantu manusia dalam memahami realitas yang paling hakiki dari kehidupan dan manusia, yakni realitas yang ada dalam hati manusia itu sendiri.

Konsep wen dalam tradisi cina tentu berbeda dengan tradisi sastra di daerah lain, misalnya tradisi barat. Sastra dalam tradisi barat dianggap sebagai mimesis dari alam, yakni kehidupan manusia, fisik alam, binatang ataupun tumbuh-tumbuhan. Hal ini dipeloportifi Aristoteles dengan konsep mimesis dan idea yang kreatif yakni menciptakan. Sastra bagi dunia Cina diciptakan bukan untuk mimesis, melainkan untuk mengikuti hukum-hukum alam, misalnya melalui matahari, air, binatang dan kehidupan manusia. semua itu dihadirkan dalam karya sastra guna mengikuti hukum-hukum alam yang ditransendensikan dari expresi prinsip-prinsip rasionalitas dalam kata-kata dan benda.
nya. Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari dunia dan disatukan dalam satu etnis.

Dalam pemikiran materialisme memandang sastra berbeda pula. Salah satu pemikiran materialisme adalah psikoanalisis klasik yang dikenalkan oleh Sigmund Freud. Paham ini menempatkan sastra atau kesenian sebagai saah satu manifestasi dari proses kejiwaan sang pengarang. Pengarang sebagai individu dipengaruhi oleh masa lalunya terutama anak-anak (aliran psikilogi Id). Masa lalu itu mempengaruhi kejiwaan atau dinamika kepribadian sang pengarang yang dapat dilihat dari hasil kecemasan yang ditekan atau diungkapkan ulang melalui ketidaksadarannya dalam wujud bahasa. atau karya seni.
Kaum Marxis klasik juga menempatkan sastra dalam struktur masyarakat yang diidealkannya. Sastra menenempati suprastruktur bersama dengan bentuk-bentuk kesadaran sosial, filsafat, hukum, dll yang bergantung dalam hubungan dengan struktur yang lain dari hubungan yang bersifat ekonomis.

Pandangan lain yang menempatkan sastra dalam kerangka satu sistem ideologis dan politis. Dapat dilihat dari tradisi kesusastraan Indonesia pada aliran Lekra atau lembaga kebudayaan rakyat. aliran ini menempatkan dan memandang sastra sebagai sarana atau alat untuk mewujudkan dan mendukung cita-cita mereka yang salah satunya membela kaum tertindas secara politis dan ekonomis guna mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sesuai dengan prinsip dan pemikiran mereka.

Karya satra yang dihasilkan pengarang Islam juga memiliki tujuan untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman ataupun sebagai bukti pengabdian dan pengagungan sifat-sifat Tuhan. Sastra dapat dipandang sebagai komoditas atau satu produk yang dapat menghasilkan uang, misalnya pengarang yang ingin menulis karya sastra karena butuh uang ataupun film-film dan hiburan yang hanya mengejar keuntungan ekonomi saja.

Dalam konteks Sosiologis, sastra dipandag sebagai produk budaya masyarakat. sastra direpresentasikan sebagai hasil gulatan batin pengarang dan expresi-expresi dari perasaan pengarang sebagai wakil masyarakatnya atau sebagai individu yang menjadi bagian dari masyarakat.  Dalam hal ini yang perlu menjadi pokok perhatian utama adalah Teori Sastra atau Teori Sosial.

Pandangan sastra dan seni dari waktu ke waktu menunjukan perubahan atau pergeseran cara memandang paradigmanya. sastra dalam masa tertentu juga mengalami keadaan serupa. Untuk mempelajari dan mngetahui paradigma terhadap sastra dan seni dari masa ke masa atau dari masyarakat ke masyarakat perlu dipelajari satu bidang disebut Teori sastra. 

Posted by Unknown in | 11.35 No comments
Gendang bertalu dari lincah penari seberang
adat terasa lekat satu keutuhan
bagian semesta bersatu.

28 mei 2014

Selasa, 27 Mei 2014

Posted by Unknown in | 07.48 No comments

Aku termangu di pematang sawah
Bersandar pada sebuah gubuk
Bertanya kepada alam
yang ditemani kicauan pipit
“Surgaku…siapa yang merampas keanggunanmu?” pekik ku
Tak satupun menjawab
Kuulangi kalimat yang sama
“Surgaku…siapa yang merampas keanggunanmu?”

Aku terdiam sesaat
Tak ubahnya keadaan semula
Yang tak ada jawabnya

Sepintas dari kejauhan
Tampak penjahat lahan mendengus angkuh
Dibalik cerutu kecilnya yang menggumpal
Memaksa petani tak berdaya
Mengerahkan hak miliknya

Sementara isterinya yang membuncit
Tak kuasa menahan kepedihan
Lalu menggendong si bungsu
Yang merengek pada mainan Cina

 
Berhentilah ketegangan itu
Disambut kumandang Azan
Yang semula meletihkan
Terasa hidup kembali
Tapi tak seperti awal
Seperti senja disore hari sebelumnya…

Gunung Sindur, 27 mei 2014

Posted by Unknown in | 05.37 No comments
Tertera baris aksara
Pada lembaran kelopak mata
Terjamah sudut pandang tak bertepi
memilin rindu sorot laku adil
dalam senyap wicara sendat
akui kekalahan
pada abdi kritik.

Gunung Sindur, 16 April 2014
Posted by Unknown in | 02.03 No comments

Alarm menggeliat pada angka lima
Gegas angkat diri tuju pancuran bening
Setelah rinduku tak terelakan lagi
Disela resahku malam tadi.

O….rupanya setan tak ingin didahului
Berbisik mesra berpagut rayu-rayu
“jangan bodohi langkahmu pagi ini” sapanya
Aku tak gubris namun tatapku teramat tajam
Hujam baris waktu yang berjalan

Iring niatku sudah…
Temui damai jiwa nan
Memanggih seluruh sukma dan raga
Alkisah sapaan syukur terdalam

“Tuhanmu tiadapula benci dan tiadapula meninggalkanmu”….
(Q.S Ad-Dhuha: 3)


Gunung Sindur, 7 mei 2014
Posted by Unknown in | 01.59 No comments

Pada deret jemari itu…
Aku pelajari wibawamu
Akan sebuah cita
Yang tlah kau rangkum
Dalam baris-baris senyum
                  
Senyum merindu
                   Akan babak perjalanan manusia
                   Berhilir sarat pencerahan makna
                   Sebuah pensejatian diri…

Aku tak sanggup eja
Sabda imaji dan kidung pesona
Yang terbungkus birahi-birahi palsu
Tuk panjikan dusta

Bagaimana tentang cita?
Ah…pongahlah muslihatmu…
Yang tercerai bersama waktu….

Gunung Sindur 10 Maret 2014

Posted by Unknown in | 01.43 3 comments
Melatih Sayembara Menulis
Oleh Tika D. Pangastuti


Sabtu, 24 Mei 2014

Seperti biasa kami dan teman-teman Komunitas Sastra Indonesia (KSI) berkumpul pada riungan sastra mingguan di Tangerang Selatan. Pertemuan minggu ini diisi oleh pemateri Bapak Mustafa Ismail, yang berprofesi sebagai wartawan koran tempo.

Dalam pemaparannya yang saya pahami bahwa menulis bukanlah hal sulit. Melalui menulis kita mengamati keadaan sekeliling, riset dan menjadi suatu pengalaman tersendiri. Menulis merupakan kerja berpikir, belajar, melatih kepekaan sesuatu dan meluapkan pikiran. Sejatinya dalam menulis kita harus berbekal dari membaca. Karena di dalam menuliskan suatu objek/keberadaan/benda disekeliling kita memerlukan pemahaman tersendiri, khusunya bila kita hendak menulis tentang karya ilmiah maupun tulisan penelitian. Dari sumber bacaan ini kelak yang menentukan arah, serta sasaran penulisan kita seperti apa nantiya. Selain itu keterampilan membaca dapat mengantarkan kita pada pengalaman yang tak terbatas. Melalui tulisan dapat membuat kita melatih keterampilan, kedisplinan, keuletan serta tanggung jawab.

Secara umum ada tiga kategori menulis, yakni: Menulis Ilmiah, Menulis Fiksi dan menulis Non-fiksi. Menulis ilmiah seperti membuat hasil laporan penelitian, karya tulis ilmiah, dll menuntut kita untuk menguasai sistematika tulisan yang sudah ditetapkan pada standarisasi tertentu. Artinya dalam menulis ilmiah jelas menggunakan asas-asas keilmuan, berupa data-data kongkrit, rujukan-rujukan, dsb.
Berbeda dengan menulis fiksi maunpun non-fiksi. Dalam menulis non-fiksi seperti esai, tajuk maupun artikel lainnya, penggunaan imajinasi dibatasi oleh terlalu luasnya aturan-aturan. Dalam penulisan fiksi yang menggunakan logika fiksionalnya, sudah tentu menimbulkan imaginasi yang kemudian tertuang dalam penulisannya. Dalam menulis fiksi maupun non-fiksi tak lupa dituntut untuk hal-hal baru, dalam hal gagasan. Yang menjadi permasalahannya adalah Bagaimana dalam penulisan kita ada kebaharuan atau tidak?
Jawabannya hanya didapat dengan, sudahkah kita membaca tulisan/karya orang lain?
Bagaimana mendorongnya? Banyak-banyaklah membaca dan menulis untuk mengembangkan sebuah gagasan baru.

Kebaharuan ini terlepas dari masalah teknis, mencakup struktural dan gagasan. Kita dapat berpikir dari:
Apakah kebaruan yang kita tawarkan pada tulisan kita?
Apakah gagasan-gagasan yang dapat kita ungkap pada tulisn kita?
 Seperti halnya dalam esai dan opini, harus dituntut kebaharuan yang disesuaikan dengan permasalahan yang sedang terjadi (up to date). 

Dalam teknis menulis cerpen, dengan kita membaca tulisan/karya orang lain, kita sudah belajar bagaimana cara orang mengungkapkan pikirannya, gagasannya dan bahkan pola kebaharuannya. Beberapa hal dianjurkan bagi penulis pemula agar membaca karya orang lain dari Koran Tempo maupun kompas. Mengapa? karena karya-karya tersebut telah diseleksi pada editor media, berdasarkan tingkat akurasi, relevan dan realis (melayani pembaca). Pada dasarnya kaidah dasar dari cerpen adalah melekat sesuatu yang baru.

Kaidah-kaidah cerpen diantaranya:
1. Gagasan Baru,  terdiri dari tema lama yang diadopsi menjadi perspektif baru dan Gagasan Baru (new).
2. Konflik, Tanpa adanya suatu masalah dalam cerita bukanlah menjadi cerita
3. Drama, dalam cerpen ada unsur dramatik yang membawa pembaca masuk ke ranah detail cerita.
4. Suspense/ Ketegangan, detail dari ketegangan berkaitan dengan konflik. Bagaimana mengikat pembaca untuk tetap membaca cerpen kita
5. Kejutan, karena tidak semua cerpen ada kejutannya. Bagian inilah yang menjadi kekuatan dalam cerpen. Bagaimana akhir dari keseluruhan cerita, apakah soft atau hard.

Kaidah cerpen dapat dibedakan dalam Unsur-unsur pembangun cerpen. Unsur pembangun cerpen dimulai dari Tema, Karakter, Alur (plot), amanat, bahasa dan gaya penulisan. unsur hanya mencakup bagaimana struktur cerpen dapat dipahami sebagai  pembangun cerita.

MEMAHAMI CARA MENGIRIM KARYA KE MEDIA

berikut dipaparkan langkah-langkah mengirim suatu karya tulis ke media, yang dapat digunakan oleh penulis pemula
1 Memahami karakter Media.
kita harus paham terhadap tulisan yang kita angkat. misalnya: tulisan kita mengenai isu perempuan, maka karya dapat dikirimkan ke majalah seperti: Kartini, Nova, Femina, dll. Kalau karaya kita merupakan cerita umum, maka ikirimkan ke koran-koran umum.
2 Tulisan cerpen antara 8000-12.000 kata
3. Perlihatkan identitas
Bioata alam bentuk narasi, bercerita bebas tentang diri kita
4.waktu tunggu antara 1 hingga 3 bulan
5. Memikat prolog (sisi dramatik)
memikat dengan konflik
6. Jangan mudah putus asa
7  Tampilkan nama asli.

Rekomendasi alamat
KORAN TEMPO
ktminggu@tempo.co.id

KORAN KOMPAS
opini@kompas.co.id
kompas@kompas.com


Demikian yang dapat saya paparkan untuk memulai sayembara menulis. terima kasih...semoga bermanfaat.



Search

Bookmark Us

Delicious Digg Facebook Favorites More Stumbleupon Twitter